Dokter di AS Uji Coba Cangkok Ginjal Babi ke Manusia

News

by Patiar Manurung

Dokter di AS Uji Coba Cangkok Ginjal Babi ke Manusia

Internasional - Ahli bedah di Amerika Serikat (AS) melakukan uji coba untuk mencangkokkan ginjal babi ke manusia. Uji coba pertama ini tanpa memicu penolakan oleh sistem kekebalan penerima organ ini. Jika ini berhasil total, diyakini dapat membantu mengatasi kelangkaan besar organ manusia untuk transplantasi.

Adapun proses operasi dengan mengubah gen babi sehingga jaringannya tidak lagi mengandung molekul yang bisa menimbulkan penolakan langsung. Semua itu dilakukan di NYU Langone Health di New York City.

Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (22/10), penerima adalah pasien mati otak dengan tanda-tanda disfungsi ginjal. Para peneliti mengatakan, keluarga pasien menyetujui percobaan ini.

Selama tiga hari, ginjal baru itu melekat pada pembuluh darahnya dan dipertahankan di luar tubuhnya, memberi para peneliti akses ke sana.

Dokter bedah transplantasi yang sekaligus memimpin penelitian, Dr Robert Montgomery menyampaikan, hasil uji coba fungsi ginjal yang ditransplantasi itu “kelihatan sangat normal”.

Dia mengatakan, ginjal membuat "jumlah urin yang Anda harapkan" dari transplantasi ginjal manusia dan tidak ada bukti penolakan awal yang kuat yang terlihat ketika ginjal babi yang tidak dimodifikasi ditransplantasikan ke primata non-manusia.

Montgomery menambahkan, tingkat kreatinin abnormal penerima - indikator fungsi ginjal yang buruk - kembali normal setelah transplantasi.

Di AS, hampir 107.000 orang saat ini sedang menunggu transplantasi organ, termasuk lebih dari 90.000 orang menunggu ginjal, menurut United Network for Organ Sharing. Waktu tunggu untuk mendapatkan sebuah ginjal rata-rata antara tiga dan lima tahun.

Para peneliti telah bekerja selama puluhan tahun terkait kemungkinan menggunakan organ binatang untuk transplantasi, tapi terhalang bagaimana mencegah penolakan langsung oleh tubuh manusia.

Tim Montgomery berteori bahwa mengubah gen babi untuk karbohidrat yang memicu penolakan – molekul gula, atau glycan, yang disebut alpha-gal – akan mencegah masalah tersebut.

Babi yang diubah secara genetik, dijuluki GalSafe, dikembangkan oleh unit Revivicor United Therapeutics Corp. GalSafe disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada Desember 2020, untuk digunakan sebagai makanan bagi orang-orang dengan alergi daging dan sebagai sumber potensial terapi manusia.

Produk medis yang dikembangkan dari babi masih memerlukan persetujuan FDA khusus sebelum digunakan pada manusia.

Peneliti lain sedang mempertimbangkan apakah babi GalSafe dapat menjadi sumber segalanya, mulai dari katup jantung hingga cangkok kulit untuk pasien manusia.

Solusi jangka pendek

Montgomery yang juga penerima cangkok hati menyampaikan, eksperimen yang dilakukan pihaknya seharusnya membuka jalan untuk uji coba pada pasien gagal ginjal stadium akhir, kemungkinan dalam setahun atau dua tahun ke depan. Percobaan tersebut dapat menguji pendekatan sebagai solusi jangka pendek untuk pasien sakit kritis sampai ginjal manusia tersedia, atau sebagai cangkok permanen.

Montgomery mengatakan, eksperimen saat ini melibatkan transplantasi tunggal, dan ginjal dibiarkan di tempatnya hanya selama tiga hari, sehingga setiap percobaan di masa depan kemungkinan akan mengungkap hambatan baru yang perlu diatasi. Peserta adalah pasien dengan kemungkinan rendah menerima ginjal manusia dan prognosis buruk pada dialisis.

“Bagi banyak orang, angka kematian sama tingginya dengan beberapa jenis kanker, dan kami tidak berpikir dua kali untuk menggunakan obat baru dan melakukan uji coba baru (pada pasien kanker) ketika itu mungkin memberi mereka kesempatan hidup lebih lama,” jelasnya.

Para peneliti bekerja dengan ahli etika medis, ahli hukum dan agama untuk memeriksa gagasan tersebut sebelum meminta keluarga untuk akses sementara ke pasien mati otak.

Dikutip dari Merdeka.com